Sub Direktorat Pengendalian ISPA

Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
SURVEILANS ISPA BERAT INDONESIA
Data/Informasi

Kinerja Program Pengendalian ISPA di Provinsi Nusa Tenggara Barat


Download

Surat Perubahan Sasaran ISPA

Rekomendasi anti biotik IDAI

SE KaBalitbangkes Pengambilan Spesimen

Media Kewaspadaan MERS-CoV

Media Leaflet MERS-CoV

Banner MERS-CoV

Poster MERS-CoV

05_Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi MERS-CoV

04_Pedoman Tatalaksana Klinis MERS-CoV

03_ Pedoman Pengambilan Spesimen MERS-CoV

02_Pedomaan Surveilan Siaga MERS-CoV

01_Pedomaan Umum Kesiapsiagaan MERS-CoV

Materi KInis dr Sardikin

Materi Karkes

Materi Surveilans

Materi WHO

SE Dirjen PP dan PL tentang MERS CoV

FormulirPengambilan Sampel

Pedoman pemeriksaan Laborat MERS CoV

Edaran Dirjen PP dan PL

Bagan Tatalaksana Pneumonia

Poster Pneumonia

Modul Bimbingan Tatalaksana Pneumonia

Pedoman Pengendalian ISPA

Berita Terkini

Pelatihan Petugas Surveilans ISPA Berat Indonesia (SIBI) di Hotel Permata Bogor

(05-04-2013)

Tanggal 2 – 5 April 2013

pembukaan sibi

Pembukaan sibilatihan Petugas Surveilans ISPA Berat Indonesia (SIBI), resmi dibuka oleh Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung, yang di wakili dr. Arie Bratasena (Kasubdit Pengendalian ISPA) di Hotel Permata Bogor pada hari rabu, 3 April 2013.

Pelatihan Petugas SIBI ini terlaksana atas kerjasama Subdit Pengendalian ISPA Kemenkes, BTDK Litbangkes, dan CDC Atlanta. Secara umum tujuan pelatihan ini untuk mengintegrasikan SARI berbasis laboratorium di rumah sakit dengan sistem surveilans pneumonia yang dikelola oleh Pusat BDTK, Balitbangkes dan Subdit ISPA, Ditjen PP-PL dan diselaraskan  dengan rekomendasi WHO yang terbaru. Secara khusus pelatihan ini untuk membekali peserta agar; Mengetahui peran dan tanggung jawab dari setiap pemegang kepentingan dalam sistem surveilans. Mempelajari dan mempraktekkan kegiatan rutin harian surveilans di rumah sakit. Membuat perencanaan rumah sakit dalam hal sosialisasi dan implementasi surveilans.

Pelatihan ini dihadiri oleh seluruh site sentinel SARI yang berjumlah 6 Site meliputi ; RSUD Lubuk Pakam di Provinsi Sumatera Barat, RSUD Wonosari di Provinsi DIY, RSUD Kanujoso Djati Wibowo di Provinsi Kalimantan Timur, RSUD Bitung di Provinsi Sulawesi Utara, RSUD NTB di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan RSUD Haulussy di Provinsi Ambon, dimana masing-masing site dihadiri 4 orang terdiri dari dokter, perawat, petugas rekam medis, dan petugas laboratorium, kasie P2 dinkes provinsi/kabupaten dimasing-masing site, team SARI subdit ISPA, team SARI BTDK, dan CDC Atlanta.

Sistem surveilans dapat memberikan informasi tentang program pengendalian penyakit. berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan. Program Pengendalian Penyakit ISPA dapat mengembangkan kebijakan nasional berdasar data yang ada untuk penyakit influenza. Kebijakan tersebut dapat meliputi tatalaksana kasus, pencegahan dan perencanaan untuk kesiapsiagaan dan respon pandemic. Surveilans Sentinel paling bermanfaat ketika dapat memberikan informasi secara rinci dalam jangka waktu yang lama dengan kualitas data yang tinggi tentang suatu proporsi suatu penyakit yang diamati. Namun, Surveilans sentinel tidak optimal untuk deteksi secara cepat suatu KLB karena hanya meliputi sebagian kecil dari fasilitas kesehatan yang berpartisipasi dalam sistem ini dan hasil pemeriksaan mungkin terlambat.

Indonesia mempunyai beberapa sistem surveilans terkait influenza yang dibangun pada waktu, tujuan dan dasar pemikiran yang berbeda-beda yaitu Early Warning Alert and Response Systems (EWARS), Surveilans Sentinel ILI Klinis, Sentinel surveilans ILI/SARI Virologis, dan Surveilans Sentinel Pneumonia Klinis. Pada Agustus 2012, dilaksanakan evaluasi terhadap Sistem Surveilans yang ada di Subdit ISPA dilaksanakan dengan bekerjasama dengan WHO dan tim US-CDC. Hasil evaluasi menemukan bahwa sistem ini sangat terbatas pemanfaatannya untuk memberikan informasi pada pengambil kebijakan karena tidak ada komponen laboratorium yang memberikan informasi tentang etiologi penyakit ini.

World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan Pedoman pada bulan Juli 2012 tentang ‘Epidemiological Surveillance Standards for Influenza.’ Garis besar pedoman ini berisi definisi kasus terbaru dan rekomendasi surveilans, dan menawarkan solusi rasional terhadap pertanyaan yang sering muncul tentang pemilihan lokasi sentinel, pengumpulan dan analisa data, untuk menyesuaikan dengan sistem terbaik yang dilaksanakan secara internasional yang direkomendasikan oleh WHO, dan untuk meningkatkan pemanfaatannya diperlukan penguatan sistem surveilans dengan melaksanakan Surveilan ISPA Berat Indonesia. SIBI ini dilaksanakan sebagai penganti surveilans pneumonia di 40 RS dengan penambahan komponen pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan virus pathogen (influenza); dan Memperbaharui sistem menjadi sistem yang berbasis kasus dibandingkan dengan sistem yang mengumpulkan data aggregate.

Kembali
Sabtu Kliwon, 20 Januari 2018
Pencarian

Pengunjung 23277 unique visitor

Galeri